Skip to main content
Perawatan dan Pembiakan Sapi

Perawatan dan Pembiakan Sapi

Beternak sapi ini sebenarnya relatif mudah untuk di lakukan,  kalau pemilihan bibitnya benar sehingga mendapatkan bibit yang bagus dan sehat, jika kebersihan kandang selalu terjaga maka kita tidak perlu khawatir akan penyakit yang mengancam. Karena pada kenyataannya saat beternak sapi, kematian kambing bisa mencapai 0% yang penting kita tidak lalai dan mengikuti ketentuan yang sudah ada dan jangan melakukan banyak percobaan atau eksperimen, maka situasinya akan aman terkendali. Memang di butuhkan ketekunan dan kesabaran dalam beternak sapi, karena waktu yang di butuhkan sampai dengan masa panen cukup lama. Tapi hasilnya juga sangat memuaskan. Hasil keuntungan yang besar akan di dapatkan jika sapi yang kita pelihara lebih dari 10 ekor.

1. Induk Sapi Bunting

Induk bunting, mulai sejak kebuntingan muda, perlu memperoleh perhatian, dan setelah induk sapi mendekati bunting tua memerlukan pemeliharaan yang bersifat khusus, selain pemberian makanan yang sesuai. Hal-hal yang perlu di perhatikan adalah:

Dua bulan menjelang beranak, sebaiknya kambing dipisahkan dari kelompoknya dan dimasukkan dalam kandang tersendiri. Dengan demikian akan terhindar dari kemungkinan penandukan-penandukan dari sapi lain nya.

Makanan harus cukup dan memiliki kualitas sesuai dengan usia kebuntingan sapi supaya proses pertumbuhan foetus berlangsung baik, produksi colostrum berkualitas dan melahirkan pedet sehat.

Olah raga bagi induk bunting sangat penting. Oleh karena itu induk sapi sebaiknya tidak dikandangkan terus-menerus, karena bila terlalu gemuk dan kurang lancar peredaran darahnya akan mengakibatkan sulit melahirkan. Olah raga yang dimaksud adalah membuat sapi bergerak dengan jalan menggiring jalan-jalan sekitar kandang.

Jika telah terlihat tanda-tanda sapi akan melahirkan, secepatnya lantai kandang diberi alas jerami kering yang bersih. Induk sapi dibersihkan dari kotoran dan sekitar ambing dibersihkan. Tanda-tanda yang dapat dilihat secara visual pada sapi yang akan melahirkan adalah: induk sapi gelisah, ambing terlihat membengkak, punggung mengendor, urat daging di sekitar vulva mengendor, mencakar-cakar seolah-olah berusaha membuat sarang dan dari vulva keluar lendir.

Pada saat sapi akan melahirkan anak harus selalu memperoleh pengawasan, tetapi harus diusahakan agar tidak mengganggu atau membuat sapi merasa ketakutan.

Sapi biasanya jarang mengalami kesulitan dalam melahirkan anak. Sehingga jarang menimbulkan permasalahan serta tidak memerlukan pertolongan. Tetapi bila terjadi kesukaran, khususnya karena disebabkan letak anak dalam posisi tidak normal, misalnya kepala tertunduk atau kaki terlipat. Maka pertolongan yang diperlukan adalah usaha mengembalikan ke letak yang normal atau usaha meletakkan posisi kepala berada di antara kedua kaki depan dan menghadap ke vulva.

Apabila sapi yang melahirkan anak, tetapi anak sapi tidak segera dapat bernafas, maka perlu pertolongan segera, supaya anak sapi dapat bernafas dengan cara meniup mulutnya atau memijat/menekan-nekan sisi dada dan mengangkat tubuh bagian belakang.

Anak kambing bersama induknya dipelihara pada kandang yang khusus; lantai harus selalu dibersihkan setiap hari. Anak sapi dapat disapih atau dihentikan menyusu pada induknya pada usia 3 bulan.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah :

  1. Ransum ; Kualitas dan kuantitas pakan/ransum yang diberikan pada sapi bunting, nutrisinya harus mencukupi, namun tidak boleh berlebihan. Energi dari pakan yang berlebih akan menyebabkan sapi bunting menjadi gemuk, yang nantinya akan menyulitkan pada saat melahirkan. Kontrol terhadap protein pakan juga harus diperhatikan, kekurangan protein akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan pedet yang dilahirkan memiliki resiko kematian yang lebih tinggi.
  2. Kesehatan; Sapi yang sedang bunting rawan terhadap serangan penyakit melalui viral, yang mengakibatkan infeksi pada uterus dan kemudian pada plasenta dan foetus. Pedet yang dilahirkan akan lemah dan akhirnya mati. Faktor utama yang mempengaruhi kesehatan sapi perah bunting adalah kebersihan. Yang harus mendapat perhatian adalah kebersihan pada:
  • Badan sapi; sapi bunting sebaiknya dimandikan minimal satu kali sehari pada setiap pagi. Kandang Sapi; lantai kandang harus selalu dibersihkan dengan air atau desinfektan yang tidak membahayakan sapi. Selain itu, saluran pembuangan air (drainase) kandang harus lancar, agar kandang selalu dalam kondisi kering.
  • Peralatan kandang; harus langsung dibersihkan setelah selesai digunakan (akan lebih baik jika menggunakan desinfektan), kemudian diletakkan pada tempat yang bersih dan aman. Hindari meminjam atau meminjamkan peralatan pada peternak lain agar penyakit tidak menyebar.
  • Pekerja kandang; Banyak kasus sapi yang sedang bunting tertular penyakit melalui pekerja yang merawatnya. Oleh sebab itu kesehatan pekerja harus selalu terjaga. Jika ada pekerja yang sakit, segera istirahatkan dan tidak boleh masuk ke kandang.

2. Pemeliharaan anak kambing

Pada dasarnya seekor anak sapi atau pedet yang sehat hanya dapat dihasilkan dari sapi yang sehat pula. Sapi yang sehat dapat diperoleh dengan memberikan ransum secara tepat selama masa kebuntingan. Dengan demikian selama induk tersebut bunting, maka perlu diperhatikan kesehtan dan pakan induk setiap harinya.

Pedet Yang Baru Lahir

Secara naluriah seekor induk biasanya akan menjilati tubuh anaknya yang baru dilahirkan. Pedet yang baru dilahirkan biasanya akan basah oleh cairan yang berasal dari tubuh induknya.

Jika hal ini tidak terjadi maka yang perlu dilakukan adalah memebersihkan lendir didalam rangga mulut dan rongga hidungnya. Selain itu, bulu-bulu yang basah perlu dikeringkan dengan menggunakan lap kering dan basah. Perlu diperhatikan pula, agar pedet yang baru dilahirkan tidak terkena kotoran (faeces) dari sapi, maupun tercemar kotoran yang berasal dari lingkunagannya.

Untuk mencegah terjadinya infeksi pada tali pusar yang ada harus segera dipotong pendek (± 2 cm dari pangkalnya) dan didesinfektan (disuci hamakan) dengan jalan mencelup bekas potongan ke dalam larutan yodium sesegera mungkin setelah kelahirannya.

Pakan Pedet Yang Baru Dilahirkan

Seperti halnya ternak lainnya, Pedet yang baru dilahirkan juga memerlukan makanan. Pakan utama yang diperlukan pedet yang baru dilahirkan adalah kolostrum, yaitu air susu yang dihasilkan oleh induk yang baru melahirkan.

Bagi pedet, kolostrum itu sangat penting karena mengadung 10-15 kali vitamin (terutama vitamin A) dan 2 kali lebih banyak kandungan energy dan proteinnya dibandingkan dengan susu normal. Kolostrum diperlukan karena mengandung sejumlah antibody (zat kebal) yang berguna untuk melindungi pedet yang baru dilahirkan dari berbagai penyakit infeksi.

Kolostrum diberikan tidak lebih dari 2 jam pertama setelah pedet dilahirkan, jumlah yang diberikan 0,5 -1 liter, dan setelah itu diberikan ± 2 liter untuk waktu 6 jam berikutnya, tetapi bila pedet mampu untuk menghisapnya sendiri, maka biarkan pedet tersebut melakukannya.

Melatih Pedet Minum Susu

Bagi peternak sapi perah, adalah lebih mengutungkan bila memisahkan pedet secepat mungkin dari induknya, karena jika pedet dipisah, maka induk segera dapat diperah air susunya. Walaupun diperlukan penyapihan sedini mungkin, tetap penting diperhatikan kebutuhan pedet akan kolotrum dari induknya.

Cara – Cara Tersebut Adalah:

  • Jepit leher pedet diantara dua kaki kita
  • Jari tangan dibasahi air susu, perlahan-lahan dimasukkan ke dalam mulut pedet.
  • Jika pedet sudah mulai menghisap secara perlahan-laha mulut pedet kita arahkan kedalam ember
  • Usahakan hidung pedet tidak masuk kedalam air susu
  • Karena terangsang, pedet akan menghisap air susu yang ada dalam ember
  • Jika sudah mulai menghisap air susu dalam ember, jari dikeluarkan dari mulut pedet.

Ransum Pedet

 Sampai umur 3 bulan air susu yang berasal dari induk dapat dimanfaatkan sapenuhnya oleh pedet. Oleh karena itu sampai umur tersebut pakan utama yang dapat diberikan ialah air susu. Kolostrum akan efektif jika diberikan dalam masa 4-5 hari. Setelah itu, pedet tersebut dapat diberi susu segar atau susu bubuk krim.

 Untuk memperoleh 1 liter susu pengati dapat diperoleh dengan:

  1. Mencampur 150 gram susu bubuk pengganti dengan 1 liter air.
  2. Mencampur 130 gram susu bubuk pengganti dengan 1 liter air.

Kedua bahan tersebut diaduk sambil dipanaskan sampai suhu 30-40 derajat celcius.

Pakan Pedet Menjelang Disapih

Agar nantinya tumbuh menjadi ternak yang sehat, maka pada saat pertumbuhannya pedet perlu diberi pakan berupa konsentrat berkualitas tinggi. Hijuan berkualitas tinggi harus diberikan sedini mungkin untuk harus diberikan perkembangan rumen.

Konsentrat merupakan pakan yang mudah rusak, oleh karena itu perlu dilakukan penyimpanan dengan benar. Pedet lebih menyukai bentuk pedet (butiran kecil). Usahankan tidak memberiakn konsentrat berlebihan, sehingga tersisa banyak.

Pemberian pakan konsentrat hijuan dan susu dari induk diberikan sampai umur 3 minggu. Setelah umur 3 minggu, susu dari induk dapat diganti dengan susu krim.

Dengan penanganan yang baik dan pemberian konsentrat yang cukup, pemberian susu dapat dihentikan setelah pedet berumur 2,5 bulan.

Pedet sampai umur 3 Bulan sebaiknya diberikan hijaun kering (hay), dan jangan diberikan pakan basah sepeti, rumput basah, ampas tahu, ampas ubi dan lain-lain.

Standar Program Pemberian Pakan Pedet umur 2-3 Bulan dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Kesehatan Pedet

Kesehatan pedet sejak awal kelahiran sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Pedet yang sehat akan ditandai dengan:

· Gerakannya aktif
· Bulu halus, bersih dan tidak lesu
· Mata cemerlang, bersih dan tidak lesu.

Sedangkan pedet yang sakit akan memiliki tanda –tanda:

· Nafsu makan dan minum menurun
· Lesu, bulunya kasar
· Ada gejala-gejala diare

Pencegahan penyakit harus dilakukan sedini mungkin. Jika dapat mengatasinya perlu dilakukan dengan hati –hati. Jka di anggap terlalu serius, supaya menghubungi petugas atau mantri kesehatan hewan secepatnya.

3. Induk Sapi Setelah Melahirkan

Partus adalah proses fisilogik yang berhubungan dengan pengeluaran fetus dan plasenta melalui saluran reproduksi.  Ketika proses kelahiran hormon progesteron akan rendah, hormon estrogen meningkat, hormon oksitocin dan prostaglandin juga terjadi peningkatan. Peningkatan prostaglandin menyebabkan lysisnya corpus luteum sehingga kadar progesteron rendah.  Rendahnya hormon progesteron dan meningkatnya hormon estrogen pada saat menjelang kelahiran akan mengakibatkan terjadinya kontraksi myometrium yang membantu proses kelahiran. Peningkatan oksitosin menyebabkan uterus lebih sensitif terhadap estrogen yang mengakibatkan meningkatnya kontraksi myometrium.

Penanganan yang tepat pada saat partus dan post partus pada induk sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan proses reproduksi ternak selanjutnya atau kebuntingan berikutnya.  Kerusakan alat reproduksi sangat rentan pada saat proses kelahiran dan pada awal setelah melahirkan.  Ternak pada saat partus dan post partus harus diamati apakah terjadi masalah dalam saluran reproduksi. 

Setelah melahirkan akan keluar lochea atau leleran dari saluran reproduksi, keluarnya lochea merupakan hal yang normal setelah ternak melahirkan. Penting diperhatikan selama proses kelahiran agar mengeliminir bakteri yang masuk ke saluran reproduksi, memastikan mukosa uterus kembali normal untuk menerima implantasi emberio dan siklus ovarim kembali normal. 

Penanganan kelahiran perlu perlakuan yang lege artis agar tidak terjadi kerusakan atau tidak terjadi gangguan reproduksi.  Sering terjadi gangguan reproduksi terutama kasus endometritis.   Oleh karena itu penanganan yang baik pada saat proses partus dan post pastus sangat menentukan untuk tidak terjadi gangguan reproduksi pada induk ternak. Setelah melahirkan harus dilakukan managemen pengendalian reproduksi post partus yaitu mengecek selama 14 hari setelah melahirkan dan setelah 14 hari melahirkan baik kelahiran normal maupun kesulitan melahirkan (distokia).  Pengecekan dilakukan apakah ada leleran yang abnormal, sikus estrus tidak teratur, tidak menunjukkan estrus setelah 50 hari melahirkan (Anestrus), dikawinkan sebanyak tiga kali tidak terjadi kebuntingan dan dilakukan pemeriksaan kebuntingan setelah 2 bulan dikawinkan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadi peradangan uterus.  Peradangan uterus post partus diantaranya adalah acute endometritiscronic endometritis dan piometra. Faktor predisposisi endometritis adalah distokia, retensio secundinae, kelahiran kembar dan induksi, kembalinya aktifitas ovarium, situasi yang memungkinkan bakteri masuk dan penyakit metabolisme.

Acute endometritis

Acute endometritis adalah kejadian endometritis pada waktu kurang dari 14 hari post partus.  Tanda-tandanya adalah keluar leleran yang bau bercampur darah dan lochea, ternak terlihat sakit bahkan sakit yang serius, demam tinggi, nafsu makan menurun, produksi susu turun. Jika tidak segera ditanggulangi bisa mengakibatkan kematian dan jika dibuka uterus ukuran besar dengan sisa lochea yang banyak dan membusuk.

Penanganan ternak yang terkena penyakit endometritis acute menurut Setiadi (2019) adalah dengan menggunakan antibiotik lokal dan parenteral.

Cronic Endometritis dan piometra

Cronic endometritis adalah kejadian endometritis lebih dari 14 hari setelah melahirkan. Tanda-tanda sebagai berikut: hewan tidak menunjukkan gejala sakit, pengumpulan lendir keruh hingga bentuk nanah. Perlu pemeriksaan internal (vaginoskop, USG) dan seviks tidak terbuka.  Sedangkan pyometra adalah terjadinya akumulasi eksudat purulent di dalam uterus, terjadinya penimbunan nanah di dalam uterus lebih dari 200 ml dan terdapat corpus luteum persisten. Penanganan, bila ada corpus luteum terlebih dahulu dilysiskan dengan prostaglandin.  Jika sudah lysis akan terjadi estrus dan serviks akan terbuka lalu leleran akan keluar baru kemudian di spul dengan antibiotik (Setiadi, 2019).

Waktu yang Tepat untuk Mengawinkan Ternak Ruminansia Post Partus

Setelah melahirkan ada proses involusi uteri atau kembali normalnya ukuran uterus ke ukuran sebelum bunting. Saat involusi uteri terjadi proses regenerasi epitel endometrium, pengecilan serat urat otot myometrium, pengecilan pembuluh-pembuluh darah uterus.  Kecepatan involusi uteri tergantung pada kontraksi myometrium, pengeluaran infeksi bakteri dan regenerasi endometrium.

Setelah involusi uteri terjadi birahi pertama, birahi pertama tidak dilakukan perkawinan, hal ini bertujuan agar uterus lebih siap untuk melakukan proses reproduksi. Kemudian setelah siklus birahi kedua, ternak sudah dapat dilakukan perkawinan.  Tujuan dikawinkan pada siklus birahi ke dua selain kesiapan saluran reproduksi juga untuk memperpendek calving interval agar tidak terjadi kerugian ekonomi yang ditimbulkan baik biaya pemeliharaan maupun biaya tenaga kerja akibat terlalu lama dikawinkan kembali setelah melahirkan.

Kerugian Akibat Gangguan Reproduksi

Banyak kerugian akibat dari gangguan reproduksi, kerugian akibat gangguan reproduksi post partus diantaranya jarak kelahiran akan lebih panjang, kerugian ekonomi karena tidak menghasilkan pedet dan susu pada kambing perah dan sapi perah, akibat jangka panjang afkir hewan, peningkatan populasi terhambat dan biaya pemeliharaan yang tinggi.

4. Pemeliharaan anak Sapi pasca Sapih

Pedet dari umur 3 bulan sudah harus mulai diganti pakan formula ke konsentrat dengan protein kasar (PK) ≥ 16% dan TDN ≥ 70%. Pergantian pakan formula harus dilakukan secara bertahap dalam 1 minggu agar pedet tidak stress. 

Standar Program Pemberian Pakan Pedet umur 4-6 Bulan dapat dilihat pada bagan dibawah ini:

Standar Program Pemberian Pakan Pedet umur 7-12 Bulan dapat dilihat pada bagan dibawah ini:

Setelah 7 bulan, pedet akan semakin tinggi nafsu makan rumputnya, tetapi fungsi organ pencernaan masih belum mencukupi. Jadi masih perlu diberikan konsentrtat sekitar 1,5 kg. Umur 12 bulan, pedet sudah cukup pertumbuhannya. Untuk membuat alat pencernaan yang sehat dan kuat, yang penting harus diberi hijauan. Bilamana kualitas dari hijauan kurang baik maka akan menyebabkan sapi kekuangan energi, bila hal ini terjadi makan pemberian konsentrat harus ditingkatkan namun jangan sampai sapi tersebut kegemukan karena akan berakibat pada siklus reproduksinya

5. Pemeliharaan Sapi Muda dan Dewasa

a) Pemberian Pakan

Pakan utama yang diberikan pada ternak sapi berupa hijauan pakan ternak yang berkualitas dan mampu memberikan nilai tambah pada pertambahan berat badan sapi. Rekomendasi yang dianjurkan pemberian hijauan pakan ternak pada sapi 10–12% dan pakan konsentrat diberikan 1-2% dari bobot badan sapi. Pemberian ransum pakan sapi tidak diberikan sekaligus dalam jumlah yang banyak. Dianjurkan pemberian pakan sapi dilakukan tiga kali sehari yaitu pada pagi hari jam 7–8 sapi potong diberikan sedikit hijauan dan setengah jatah konsentrat. Jam 12 siang diberikan kembali setengah bagian dari sisa hijauan pakan ternak dan jam 3 sore jatah sisa konsentrat diberikan kembali pada sapi dan pada jam 5 sore kembali sisa jatah hijauan pakan ternak diberikan kembali pada sapi. Dianjurkan hijauan pakan ternak yang akan diberikan pada sapi dicincang terlebih dahulu yang akan memudahkan sapi mengkonsumsi hijauan pakan ternak. Selain pemberian pakan yang juga harus diperhatikan oleh petani sapi adalah memberikan air minum pada sapi yang harus disediakan sepanjang waktu dengan kebutuhan air minum 20-40 liter/ekor/hari.

b) Pengendalian dan Pencegahan Penyakit

Sapi sehat merupakan faktor penting dalam meraih keberhasilan usaha sapi. Karena itu perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian penyakit yang terdiri dari 1) Vaksinasi pada sapi secara teratur sesuai jenis penyakit yang sering terjadi di wilayah, 2) Melakukan pemeriksaan sapi secara teratur, 3) Melakukan sanitasi lingkungan kandang, 4) Melakukan desinfektan pada kandang dan peralatan kandang 5) Menjauhkan sapi dari sapi lain yang terjangkiti penyakit, 6) Mengusahakan lantai kandang sapi dalam keadaan kering, 7) Melakukan pengawasan dan pengawalan kesehatan reproduksi sapi. Selain melakukan pencegahan juga perlu waspada pada beberapa penyakit menular.

6. Mengawinkan Sapi Betina

Sapi yang sehat dan mendapat pakan yang baik akan sangat berpengaruh baik terhadap system reproduksinya. Dalam keadaan demikian sapi akan memiliki siklus birahi yang teratur. Rata-rata siklus birahi sapi bali adalah 21 hari (19 – 23 hari).

a) Gejala Birahi

Gejala sapi birahi dapat diketahui dari perubahan perilaku sapi dan perubahan fisiologi alat kelamin betina.

Perubahan Prilaku. Perubahan prilaku yang mungkin nampak pada saat sapi betina birahi adalah:

  1. Sapi betina nampak menjadi tidak tenang
  2. Napsu makannya menurun
  3. Kadang-kadang menguak dan berkelana mencari sapi jantan
  4. Berusaha menaiki sapi lain dan bila dinaiki akan diam saja
  5. Vulva dicium-cium oleh betina lain
  6. Mengangkat dan menggoyang-goyangkan ekor.

Perubahan Fisiologi. Perubahan fisiologi alat kelamin betina bagian luar   yang dapat kita lihat adalah:

  1. Keluarnya lendir birahi dari alat kelamin betina. Lendir bening, tidak berwarna dan kental. Lendir ini mirip dengan putih telur. Kadang dapat kita jumpai dalam keadaan menggantung (sulit jatuh) atau kalau sudah mengering menempel pada pangkal ekor atau pantat sapi.
  2. Vulva membengkak, melemah, hangat dan kemerahan

Hal-hal yang harus dilakukan peternak saat awal melihat sapinya sedang birahi (tanda-tanda birahi):

  1. Buat perencanaan bagaimana sapi dikawinkan (kawin alam/ langsung atau dengan Inseminasi Buatan) dan, dengan sapi jenis sapi apa (Sapi Bali, Simenthal, Limousin, Brangus, FH, dll) induk tersebut dikawinkan.
  2. Segera laporkan pada Ketua Kelompok / Inseminator kapan sapinya mulai menampakkan tanda-tanda birahi.
  3. Pastikan betina terhindar dari pejantan yang tidak diinginkan mengawini.
  4. Lakukan pencatatan kapan (hari, tangggal, bulan dan tahun) induk tersebut birahi, dikawinkan/ IB dan pejantan apa yang dikawinkan (identitas pejantan)

b) Waktu yang Tepat Mengawinkan Ternak

Prakiraan Kebuntingan (konsepsi) bila diinseminasi / dikawinkan pada saat:

  • Permulaan Birahi :  44 %
  • Pertengahan Birahi :   82 %
  • Akhir Birahi :   75 %
  • 6 Jam Sesudah Birahi : 62,5 %
  • 12 Jam Sesudah Birahi : 32,5 %
  • 18 Jam Sesudah Birahi :    44 %
  • 24 Jam Sesudah Birahi :    12 %
  • 36 Jam Sesudah Birahi :      8 %
  • 48 Jam Sesudah Birahi :      0 %

c) Abnormalitas Birahi

Dalam keadaan normal, pertumbuhan follikel dan ovulasi dapat terjadi berulang dalam jarak waktu 21 hari dan apabila berjalan dengan baik maka akan menunjukkan gejala birahi. Tetapi apabila fungsi ovari abnomal, maka birahi pun tidak normal.

  1. Silent Heat: Birahi Tersembunyi

Sapi tidak menampakkan tanda-tanda birahi, tetapi bila dilakukan palpasi rectal, terkadang juga ditemukan kondisi ovariumnya normal.

Terhadap sapi yang mengalami kondisi seperti ini perlu dilakukan perbaikan manajemen pemeliharaan dengan cara pemberian pakan yang berkualitas bagus, olahraga (exercise) dan dikenakan sinar matahari, apabila terlalu gemuk disarankan untuk menurunkan jumlah pemberian pakannya.

  • Anaphrodisia: Tidak Ada Birahi

Walaupun sudah masuk masa birahi tetapi tidak ada birahi. Sapi belum berproduksi walaupun sudah berumur 24 bulan tidak birahi. Walaupaun sudah lewat 60 hari setelah melahirkan, tidak birahi, kemudian birahi sekali selanjutnya tidak birahi lagi, dll. Hal tersebut yang dimaksud dengan Anaprodisia. Penyebabnya adalah kurangnya gizi yang baik, atau terlalu gemuk. Contoh kasus yang banyak seperti ini dapat dipulihkan dengan perbaikan manajemen pemeliharaan.

  • Continued Estrus: Sekali-kali muncul birahi terus

Masa birahi berlangsung lama, birahi tidak normal berulang-ulang dan berlangsung lama disertai dengan tanda-tanda birahi yang semakin kuat dan jelas.

Penyebabnya adalah diperkirakan Ovarium Cyst. Apabila hal tersebut dibiarkan, bias menjadi penyebab tidak bisa bunting. Segera hubungi Dokter Hewan untuk pengobatannya.

  • Low Fertylity

Walaupun birahinya normal dan fungsi ovariunya normal, kadang-kadang juga ada yang tidak bunting. Agar sapi tersebut bisa bunting, upaya yang dapat dilakukan adalah perbaikan manajemen pemeliharaan tetapi ada juga sifat bawaan dari lahir / genetic, sapi seperti ini sebaiknya dijual saja.

error: Content is protected !!